Pengajian 8 Mei 2010
May 8th
Belajar ilmu Agama atau Dien,di Yayasan Majelis Tafsir Al Qur’an khususnya Ilmu tafsir, bahwasanya tidak menafsirkan sendiri langsung dari Al Qur’an namun belajar dari kitab-kitab Tafsir yang ada,yang di tulis para mufasir terkenal.
Didalam ilmu tafsir urutan kedudukan yang teratas -terbawah adalah :
1. Al Qur’an dijelaskan dengan Al Qur’an
2. Al Qur’an dijelaskan dengan Hadist
contoh : Al Qur’an memerintahkan mendirikan sholat dan sebagai penjelasannya diterangkan secara detail di hadist.
3. Al Qur’an dijelaskan oleh para sahabat Rasullulloh saw.
contoh : Tafsir Ibnu Abbas
4. Al Qur’an dijelaskan oleh para Tabi’en yakni pengikut Islam awal yang masa hidupnya setelah masa kenabian namun masih sezaman atau bertemu dengan para sahabat.
5. Al Qur’an dijelaskan oleh para Tabi’ut Tabi’en yakni pengikut Islam yang masa hidupnya sezaman dengan Tabi’en namun sudah tidak bertemu dengan para sahabat.
Dari keterangan di atas bisa diambil pengertian bahwa masa sesudah Sahabat sampai dengan masa Tabi’ut Tabi’en dinamakan generasi Salafus Shalih,sedangkan masa sesudahnya adalah generasi Kholaf,sedangkan penafsir pada masa Kholaf disebut Mufasirin Kholaf.Dalam hal ini yayasan MTA menggunakan rujukan dari mufasir Salaf maupun mufasir Kholaf.
QS.2 Ayat 29 :
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Adalah salah satu ayat yang dijadikan dasar hukum yang menyatakan bahwa,” Bahwa tiap-tiap sesuatu yang di ciptakan Alloh swt berhukum boleh atau mubah,kecuali apabila ada dalil yang merubah kebolehannya menjadi haram atau makruh.
Kembali ke QS.2 ayat 28 :
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
“Mengapa kamu kafir kepada Alloh..?” setelah apa yang Alloh jadikan di dunia ini untuk Kamu.?,
Sebagai Renungan bagi kita masihkah kita tidak taat..?
Nabi sangat mencintai orang miskin
May 1st
Beliau memang mencintai orang miskin tetapi anti kemiskinan, beliau mencintau orang yg tertindas, tetapi anti penindasan, beliau mencintai orang yg terdzalimi, tetapi beliau anti mendzalimi.
Terbukti ketika berhasil mendirikan masjid Nabawi, maka beliau berada diantara para sahabatnya yang miskin-miskin, beliau mencintai dan mengangkat derajat orang-orang miskin, bahkan beliau pernah bersabda, “jika engkau mencari saya carilah di tempat – tempat bersama ororang-orang miskin.”
Saking cintanya kepada orang-orang miskin menyebabkan sahabat yang kaya menjadi iri karena terbatas utk bersama Nabi, bahkan dalam riwayat nabi pernah memperbaiki sandalnya orang miskin yang rusak, juga pernah menjahit orang miskin yang sudah tua, lebih dari itu beliau pernah makan satu piring dengan budak, karena itu beliau sangat disayangi oleh umatnya.
Dalam suatu riwayat juga diceritakan ketika seorang tukang sapu masjid yang tua meninggal namun beliau tidak dikasih tahu, maka tampak marah dan minta diantarkan ke kuburnya untuk mensholatkan.
Mari kita lihat pada diri kita masing-masing, ada kalanya kita lebih senang dan bangga jika bersama orang-orang yang kaya, bahkan merasa gensi kalau bersanding bersama orang-orang miskin, padahal Nabi seorang kepala negara begitu dekatnya dengan orang-orang miskin.
Begitu baiknya Allah terhadap kita
Apr 10th
Kalau kita mau menghitung-hitung nikmat atau kebaikan yang Allah berikan kepada kita PASTI kita tidak akan sanggup menghitungnya. Hal ini harus bener-bener kita sadari sepenuhnya, bahwa Allah sudah begitu baik kepada kita umat manusia ini, Dia telah menciptakan apapun di bumi ini untuk manusia, sebagaimana yang Allah katakan dalam Al-Qu’an surat Al-Baqarah ayat 29, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS2:29].
Kalau semua yang diciptakan di alam ini diperuntukkan bagi manusia, lalu untuk apa manusia ini diciptakan…? Allah berikan jawabnya di dalam Adz Dzaariyaat ayat 56 bahwa manusia ini diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Namaun demikian sudah begitu baiknya Allah kepada manusia, masih banyak manusia yang tidak mau beribadah kepada Allah..?? Karena itu pentingnya dakwah ini agar manusia ini mengerti bahwa dia diciptakan di dunia ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah.
Sejauh manakah kita dalam menerima Al-qur’an
Mar 27th
Sudah banyak diantara kita ini yang ngajinya sudah cukup lama, bahkan mungkin sudah puluhan tahun, namun belum tentu sudah bisa mengamalkan apa yang telah diterima dari ngaji Al-qur’an ini. Ibarat orang yang baru belajar mengendarai mobil, maka dia hanya muter-muter di lapangan tempat belajar menyetir tersebut. Nah anehnya kalau sudah sekian lama belajar dan sudah bisa nyetir mobil koq ternyata masih muter-muter juga di satu tempat. Begitu juga dengan ngaji ini ada kalanya kita sudah menerima Al-qur’an namun masih saja diam dan muter-muter di tempat karena belum megamalkan ayat-ayat yang tela dipelajari.
Coba mari kita simak ayat berikut dalam surat Faathir ayat 32 : Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar [QS.35:32].
Ngaji hanya mengharap Ridlo Allah
Mar 20th
Ustadz : Busyroni
Berkaitan dengan adanya warga yang masuk dan juga ada yang keluar, maka semua kita kembalikan kepada apa yang mereka cari, kalau ngaji itu bukan karena ingin mencari ridlo Allah, maka tidak akan bisa sabar dan tidak akan bertahan sampai akhir hayatnya. Seperti salah satu warga di sini sejak awal MTA Madiun ini didirikan beliau sudah ikut ngaji dan akhirnya Allah memanggilnya dalam keadaan masih ngaji. Sedangkan ada beberapa warga yang akhirnya meninggalkan ngaji ini karena tidak sabar dalam mencari keridloan Allah.
Allah berfirman “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [QS.18:28]
Iman yang benar pasti timbul Jihad
Mar 13th
Ustadz : Suparyanto
Banyak sekali diantara kita yang mengatakan atau merasa diri kita telah beriman yang benar, karena pada umumnya orang yang mengakui atau percaya terhadap rukun iman itu berarti dia telah beriman. Untuk itu mari kita tinjau dari tuntunan agama Islam yang sebenarnya yaitu Al-qur’an, bahwa Iman yang benar itu selain beriman kepada Allah dan Rasul harus diikuti dengan Jihad fisabilillah, mari kita lihat di dalam Al-Hujuraat ayat 15, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.[QS.49:15]
Dalam ayat diatas bahwa iman yang benar adalah selain kita beriman kepada Allah dan Rasul, maka harus yakin dan sungguh-sungguh atau tidak ragu dan diikuti dengan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Kita tahu bahwa Jihad yang bisa kita laksanakan saat ini adalah menuntut ilmu, kecuali memang pada saatnya ada perintah untuk perang, maka jihad dimaksud adalah perang sebagimana jihadnya Rasul dan para sahabatnya. Oleh karena itu kita menghadiri pengajian dalam rangka peresmian cabang di Jogjakarta nanti adalah termasuk jihad fisabilillah, maka jangan sampai kita acuh atau tidak menghiraukan kalau mau dikatakan iman kita sudah benar.
Orang beriman selalu ada perbaikan
Mar 6th
Ustadz : Maryono
Hati kita ini pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu : Hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Dan tentu saja yang paling baik adalah hati yang sehat yang merupakan hatinya orang beriman yang apabila dibacakan ayat-ayat Allah akan bertambah imannya. Hati yang sehat itu apabila dibacakan ayat Allah akan semakin tambah imannya, tetapi hati yang sakit apabila dibacakan ayat-ayat Allah akan bertambah sakitnya.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.[QS.8:2]

![[popup] [popup]](http://mta-madiun.com/v1/wp-content/plugins/shout-stream/popup.png)
Recent Comments