<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mta-madiun.com/v1</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 10:52:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>maskiton@yahoo.com ()</managingEditor>
		<webMaster>maskiton@yahoo.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary></itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>maskiton@yahoo.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://mta-madiun.com/v1/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://mta-madiun.com/v1/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title></title>
			<link>http://mta-madiun.com/v1</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Tegakkan Perintah Allah swt</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=631</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=631#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 10:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Sugeng
Kita belajar Al Qur’an dalam rangka untuk dimengerti dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus digalakkan oleh setiap muslim, dimanapun ngajinya. Ngaji dalam rangka dakwah Islam harus dilakukan secara istiqamah (minimal sekali dalam seminggu). Qurban juga dilakukan tidak hanya sekedar sekali seumur hidup, tapi dilakukan setiap tahun. Dengan qurban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Sugeng</strong></p>
<p>Kita belajar Al Qur’an dalam rangka untuk dimengerti dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus digalakkan oleh setiap muslim, dimanapun ngajinya. Ngaji dalam rangka dakwah Islam harus dilakukan secara istiqamah (minimal sekali dalam seminggu). Qurban juga dilakukan tidak hanya sekedar sekali seumur hidup, tapi dilakukan setiap tahun. Dengan qurban maka sekaligus kita melakukan tiga hal sekaligus : syiar, dakwah, keihklasan. Zakat juga otomatis selalu dikeluarkan minimal 2.5% setiap menerima rizki, dalam rangka membersihkan harta kita.<br />
<em>Dari Mu’awiyah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,<br />
</em><em>“Selalu ada segolongan dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya atau menyelisihinya, sehingga datang keputusan Allah dan mereka tetap ada di tengah-tengah manusia”</em>. [HR. Muslim juz 3, hal. 1524, no. 174]<br />
<em><span id="more-631"></span>QS Al Maaidah (5) 105<br />
</em><em>Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.<br />
</em>[*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.<br />
Saat ini mengamalkan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul saw menjadi asing (tidak lumrah). Itu semua terjadi karena kita tidak mau mengaji dalam rangka mencari Islam yang benar.<br />
<em>Dari Sahl bin Sa’d As-Saa’idiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,<br />
</em><em>“Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing”. Para shahabat bertanya, “Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusak”</em>.<br />
[HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]<br />
Allah memberi bantuan kepada orang yang bersungguh-sungguh sebagaimana terkisah dalam kemenangan kaum muslimin dan kekalahan kaum murtad di Bahrain. Kemudian datanglah pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Al-&#8217;Alaa&#8217; bin Hadlramiy yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiiq untuk membebaskan kota Juwaatsaa dari kepungan orang-orang murtad. Ketika mendekati Bahrain pasukan Al-&#8217;Alaa&#8217; telah diperkuat dengan pasukan Tsumamah bin Utsaal. Ketika Al-&#8217;Alaa&#8217; bin Hadlramiy mendekati pasukan orang-orang yang murtad, sedangkan mereka telah mengumpulkan personil yang banyak sekali, lalu Al-&#8217;Alaa&#8217; memberhentikan pasukannya. Padahal musuh juga berhenti di dekatnya. Mereka bermalam di tempat yang saling berdekatan. Pada suatu malam Al-&#8217;Alaa&#8217; mendengar suara hiruk pikuk dari pasukan kaum murtad, maka ia berkata, &#8220;Siapa diantara kalian yang siap untuk mencari informasi tentang mereka ?&#8221;. Maka bangkitlah &#8216;Abdullah bin Hadzaf, lalu dia berjalan memasuki sarang musuh. Setelah &#8216;Abdullah bin Hadzaf matuk kepada mereka, ternyata ia mendapati musuh dalam keadaan mabuk, mereka tidak sadar karena pengaruh minuman keras. Kemudian &#8216;Abdullah segera kembali dan memberitahukan hal itu kepada Al-&#8217;Alaa&#8217;. Maka Al-&#8217;Alaa&#8217; segera menaiki kudanya beserta pasukannya maju menyerang musuh. Maka pada malam itu juga mereka banyak membunuh musuh, dan sedikit sekali yang bisa melarikan diri dari mereka. Dan pasukan Islam berhasil menguasai semua harta musuh, hasil bumi maupun perbekalan mereka. Dan itu merupakan harta rampasan perang yang banyak sekali. Tersebutlah bahwa Al-Hutham bin Dlubai&#8217;ah saudara Bani Qais bin Tsa&#8217;labah termasuk tokoh kaumnya, pada waktu itu ia sedang tidur. Ketika kaum muslimin menyerbu mereka, ia terbangun dalam keadaan terkejut dan langsung melompat ke atas kudanya, namun sayang tempat pijakannya terputus, maka dia berkata, &#8220;Siapa yang bisa memperbaiki tempat pijakanku ini ?&#8221;. Lalu datanglah seorang dari tentara kaum muslimin pada malam itu dan berkata, &#8220;Aku bisa memperbaikinya untukmu, angkatlah kakimu&#8221;. Ketika ia mengangkat kakinya, maka seketika itu tentara Islam tersebut memenggal kakinya hingga terputus bersama tapak kakinya, lalu dia berteriak, &#8220;Bunuhlah saja diriku !&#8221;, lalu dijawab oleh tentara Islam tersebut, &#8220;Tidak, aku tidak mau&#8221;. Akhirnya ia jatuh tersungkur. Setiap kali ada orang yang melewatinya, ia meminta supaya membunuhnya. Namun orang-orang tidak mau membunuhnya, sehingga Qais bin &#8216;Ashim melewatinya, maka ia berkata kepadanya, &#8220;Aku adalah Hutham, maka bunuhlah aku&#8221;. Maka Qais pun membunuhnya.<br />
Ketika Qais melihat bahwa kakinya telah terpotong, maka dia merasa menyesal karena telah membunuhnya, dan ia berkata, &#8220;Oh, alangkah buruknya, seandainya aku mengetahui apa yang menimpamu, pasti engkau tidak akan kusentuh&#8221;. Kemudian kaum muslimin mengejar musuh yang melarikan diri. Kaum muslimin berhasil membunuh mereka di berbagai tempat dan jalan. Dan kebanyakan diantara mereka melarikan diri menuju laut menyeberang ke Darain. Mereka naik perahu, lari ke Darain. Kemudian Al-&#8217;Alaa&#8217; bin Hadlramiy membagi harta rampasan perang.<br />
Setelah pembagian ghanimah selesai dan barang-barang telah dinaikkan ke kendaraan, lalu Al-&#8217;Alaa&#8217; berkata kepada tentaranya, &#8220;Mari kita berangkat menuju Darain untuk memerangi musuh yang berada di sana!&#8221;.<br />
Maka semua pasukan mematuhi perintahnya. Mereka mulai bergerak sehingga sampai di tepi pantai dan bersiap-siap untuk mengejar perahu musuh. Namun jarak antara mereka dengan perahu musuh cukup jauh yang tidak mungkin terkejar, hingga musuh-musuh Allah itu berhasil melarikan diri. Kemudian Al-&#8217;Alaa&#8217; segera masuk ke laut dengan kudanya sambil berdo&#8217;a,<br />
&#8220;Ya Allah Yang Maha Penyayang diantara para penyayang, ya Allah Yang Maha Bijaksana, ya Allah yang Maha Mulia, ya Allah Yang Maha Esa, ya Allah Tempat bergantung, ya Allah Yang Maha Hidup, ya Allah Yang Maha Menghidupkan, ya Allah Yang Maha Berdiri sendiri, ya Allah Yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Tuhan kami&#8221;.<br />
Dan ia memerintahkan tentaranya untuk mengucapkan do&#8217;a yang sama dan langsung masuk ke laut bersama kuda mereka. Dan pasukan pun melakukannya. Akhirnya dengan idzin Allah mereka dapat menyeberangi teluk tersebut dengan mengendarai kuda, mereka berjalan seperti berjalan di atas padang pasir yang datar yang di atasnya ada airnya, namun tidak sampai sebatas kaki unta dan tidak sampai sebatas lutut kuda. Padahal perjalanan ini jika ditempuh dengan perahu memakan waktu seharisemalam, namun pasukan muslimin berhasil sampai di tepi pantai seberang. Mereka lalu memerangi musuh hingga mengalahkan mereka dan mengambil harta rampasan perang mereka. Kemudan mereka kembali lagi ke sisi pantai pertama. Perjalanan pulang pergi mereka menyeberangi teluk tersebut hanya memakan waktu satu hari saja. Dan Al-&#8217;Alaa&#8217; tidak menyisakan seorang musuhpun untuk membawa berita. Kemudian Al-&#8217;Alaa&#8217; mulai menggiring para tawanan anak-anak dan wanita, binatang ternak dan harta mereka. Tidak seorangpun dari kaum muslimin yang kehilangan di laut tersebut kecuali seekor kuda yang bernama &#8216;Ulaiqah. Namun Al-&#8217;Alaa&#8217; berhasil membawanya kembali. Kemudian Al- &#8216;Alaa&#8217; membagi-bagikan harta rampasan perang kepada pasukannya. Setiap penunggang kuda berhasil mendapatkan bagian 2.000 dinar, dan setiap pejalan kaki mendapatkan bagian 1.000 dinar, padahal pasukannya juga banyak. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 721].<br />
Tentang Al-&#8217;Alaa&#8217; menyeberangi lautan ini, Ibnul Atsiir dalam kitabnya Al-Kaamil fit Taariikh juga menyebutkan sebagai berikut :<br />
Dan Al-&#8217;Alaa&#8217; berkata, &#8220;Allah telah memperlihatkan kepada kalian tandatanda kekuasaan-Nya di darat, maka hendaklah kalian mengambil pelajaran dengannya di laut, maka kejarlah musuh kalian, dan seberangilah lautan itu. Kemudian Al-&#8217;Alaa&#8217; berangkat dengan naik kuda menyeberangi lautan. Dan pasukannya pun mengikutinya, sehingga mereka berhasil menyeberangi lautan, ada yang naik kuda, ada yang naik unta, ada yang naik himar dan ada pula yang berjalan kaki. Dan ketika Al- &#8216;Alaa&#8217; berdoa, merekapun turut berdo&#8217;a. Dan diantara do&#8217;a mereka ialah (yang artinya), &#8220;Ya Allah Yang Maha Penyayang diantara para penyayang, ya Allah yang Maha Mulia, ya Allah Yang Maha Penyantun, ya Allah Yang Maha Esa, ya Allah Tempat bergantung, ya Allah Yang Maha Hidup, ya Allah Yang Menghidupkan orang-orang yang mati, ya Allah Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Tuhan kami&#8221;. Dan dengan idzin Allah mereka dapat menyeberangi teluk tersebut seperti berjalan di atas padang pasir yang di atasnya ada air, yang hanya mencapai kaki unta. [Al-Kaamil fit Taariikh juz 2, hal. 227]. Kemudian Al-&#8217;Alaa&#8217; mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiiq memberitahukan kemenangan ini. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiiq mengirim utusan sebagai tanda terima kasihnya kepada Al-&#8217;Alaa&#8217; atas apa yang telah ia capai. Dan salah satu diantara pasukan muslimin, yaitu &#8216;Afiif bin Mundzir membuat sya&#8217;ir yang artinya :<br />
<em>Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah telah menaklukkan laut-Nya, Dan menurunkan kepada orang-orang kafir hukuman-Nya, Kami berdo&#8217;a kepada Tuhan yang pernah membelah lautan, </em><em>Maka Dia mendatangkan kepada kami keajaiban yang lebih hebat dari yang terdahulu</em>. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 721]<em></em></p>
<p><em>QS Al jumu’ah (62) 4<br />
</em><em>Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.<br />
</em>Hanya Allah yang mempunyai karunia (fadlilah), jika Allah menghendaki maka karunia itu bisa diberikan kepada kita. Sihir itu bukan karunia, bisa-bisa malah datangnya dari syaitan. Oleh karenanya kita harus hati-hati.<br />
<em>QS Al Anfaal (8) 63<br />
</em><em>dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.<br />
</em>[622] Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.<br />
Allah swt sudah menegaskan bahwa bukan harta benda yang bisa menyatukan hati. Namun hanya karena Allah lah yang bisa mempersatukan hati, yaitu dengan Al Quran. Oleh karenanya jauhkan diri dari kedengkian (hasad), karena akan sangat merusak hati.<br />
<em>QS Ali Imran (3) 103<br />
</em><em>dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.<br />
</em>Di antara yang dimaksud berdiri di tepi jurang neraka : berebut tahta, berebut kekayaan, berebut wanita. Oleh karenanya kita jauhi dari hal-hal seperti itu, dan mari kita berebut dala, fastabiqul khairat dan membela agama Allah swt. Jika petunjuk Allah sudah datang kepada kita maka tiada siapapun / sesuatupun yang akan memudharatkan kita (QS 5:105).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=631</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120519_sg.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Sugeng

Kita belajar Al Qurrsquo;an dalam rangka untuk dimengerti dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus digalakkan oleh setiap muslim, ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Sugeng

Kita belajar Al Qurrsquo;an dalam rangka untuk dimengerti dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus digalakkan oleh setiap muslim, dimanapun ngajinya. Ngaji dalam rangka dakwah Islam harus dilakukan secara istiqamah (minimal sekali dalam seminggu). Qurban juga dilakukan tidak hanya sekedar sekali seumur hidup, tapi dilakukan setiap tahun. Dengan qurban maka sekaligus kita melakukan tiga hal sekaligus : syiar, dakwah, keihklasan. Zakat juga otomatis selalu dikeluarkan minimal 2.5% setiap menerima rizki, dalam rangka membersihkan harta kita.
Dari Mursquo;awiyah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
ldquo;Selalu ada segolongan dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya atau menyelisihinya, sehingga datang keputusan Allah dan mereka tetap ada di tengah-tengah manusiardquo;. [HR. Muslim juz 3, hal. 1524, no. 174]
QS Al Maaidah (5) 105
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
[*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Saat ini mengamalkan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul saw menjadi asing (tidak lumrah). Itu semua terjadi karena kita tidak mau mengaji dalam rangka mencari Islam yang benar.
Dari Sahl bin Sarsquo;d As-Saarsquo;idiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
ldquo;Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asingrdquo;. Para shahabat bertanya, ldquo;Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?rdquo;. Beliau bersabda, ldquo;Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusakrdquo;.
[HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]
Allah memberi bantuan kepada orang yang bersungguh-sungguh sebagaimana terkisah dalam kemenangan kaum muslimin dan kekalahan kaum murtad di Bahrain. Kemudian datanglah pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Al-'Alaa' bin Hadlramiy yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiiq untuk membebaskan kota Juwaatsaa dari kepungan orang-orang murtad. Ketika mendekati Bahrain pasukan Al-'Alaa' telah diperkuat dengan pasukan Tsumamah bin Utsaal. Ketika Al-'Alaa' bin Hadlramiy mendekati pasukan orang-orang yang murtad, sedangkan mereka telah mengumpulkan personil yang banyak sekali, lalu Al-'Alaa' memberhentikan pasukannya. Padahal musuh juga berhenti di dekatnya. Mereka bermalam di tempat yang saling berdekatan. Pada suatu malam Al-'Alaa' mendengar suara hiruk pikuk dari pasukan kaum murtad, maka ia berkata, "Siapa diantara kalian yang siap untuk mencari informasi tentang mereka ?". Maka bangkitlah 'Abdullah bin Hadzaf, lalu dia berjalan memasuki sarang musuh. Setelah 'Abdullah bin Hadzaf matuk kepada mereka, ternyata ia mendapati musuh dalam keadaan mabuk, mereka tidak sadar karena pengaruh minuman keras. Kemudian 'Abdullah segera kembali dan memberitahukan hal itu kepada Al-'Alaa'. Maka Al-'Alaa' segera menaiki kudanya beserta pasukannya maju menyerang musuh. Maka pada malam itu juga mereka banyak membunuh musuh, dan sedikit sekali yang bisa melarikan diri dari mereka. Dan pasukan Islam berhasil menguasai semua harta musuh, hasil bumi maupun perbekalan mereka. Dan itu merupakan harta rampasan perang yang banyak sekali. Tersebutlah bahwa Al-Hutham bin Dlubai'ah saudara Bani Qais bin Tsa'labah termasuk tokoh kaumnya, pada waktu itu ia sedang tidur. Ketika kaum muslimin menyerbu mereka, ia terbangun dalam keadaan terkejut dan langsung melompat ke atas kudanya, namun sayang tempat pijakannya terputus, maka dia berkata, "Siapa yang bisa memperbaiki tempat pijakanku ini ?...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Jaga Diri</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=629</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=629#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 13:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Sugeng
QS Al Maaidah (5) 105
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
[*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Sugeng</strong></p>
<p><em>QS Al Maaidah (5) 105<br />
</em><em>Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.<br />
</em>[*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.<br />
Perlu jaga diri masing-masing karena kadang-kadang lengah, kadang-kadang sembrono, kadang-kadang lalai. Orang yang beriman akan dijaga oleh Allah, walaupun apapun yang terjadi. Kembali kepada Allah pasti, hanya tinggal menunggu saat. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini kelak akan “diputar” kembali. Oleh karenanya mumpung kita masih hidup, lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf adalah apa yang diperintahkan Allah &amp; Rasul-Nya, nahi munkar adalah apa yang dilarang Allah &amp; Rasul-Nya.<br />
<span id="more-629"></span><em>Hadits Rasulullah saw :<br />
</em><em>Dari Abu Umayyah Asy-Sya’baniy, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Abu Tsa’labah, aku bertanya, “Hai Abu Tsa’labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat <strong>‘alaikum anfusakum </strong>? – Al-Maaidah : 105”. Ia berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAW”, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma’ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan ditha’ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran. </em><em>Shabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar ma’ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan </em><em>mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti dia”. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku selain dia, ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari mereka ?”. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian”</em><em>. [HR. Abu Dawud juz 4, </em><em>hal. 123]<br />
</em>Tidak tertarikkah kita untuk “membangun rumah” di surga? Kebanyakan orang lebih cenderung bakhil daripada dermawan, lebih cenderung mengumbar nafsu daripada mengendalikannya, lebih cenderung berorientasi keduniawian daripada keakhiratan. Mari apa yang ada pada kita disyukuri.<br />
<em>Dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata : Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir kalau keburukan itu akan menimpa saya. </em><em>Saya bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami </em><em>dahulu berada di masa jahiliyah dan dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan ?”. </em><em>Nabi SAW menjawab, “Ya”. Saya bertanya lagi, “Dan apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan</em><em>?”. Nabi SAW menjawab, “Ya”. Dan padanya ada asap kelabu (percampuran yang baik dan yang buruk). Saya bertanya, “Apa itu yang dimaksud asap ?”. Nabi SAW menjawab, “Ada suatu kaum yang memakai petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinya”. Saya bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan ?”. Nabi SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka (mengikutinya), maka mereka akan melemparkannya ke Jahannam”. Saya bertanya lagi, “Ya Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat mereka kepada kami”. </em><em>Nabi SAW bersabda, “Mereka adalah orang-orang dari daging kulit kita sendiri, dan mereka berbicara dengan lisan kita”. Saya bertanya lagi. “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada saya jika </em><em>saya mendapati yang demikian itu ?”. Beliau bersabda, “Tetaplah kamu menetapi jama’ah muslimin dan imam mereka”. Saya bertanya lagi, “Jika tidak ada jama’ah muslimin dan imam (lalu bagaimana) ?”. Beliau bersabda, “Tinggalkanlah firqah-firqah itu semuanya, meskipun kamu </em><em>harus menggigit akar-akar pohon sehingga mati menjemputmu, sedangkan kamu dalam keadaan demikian itu”</em><em>. [HR. Bukhari juz 4, hal. 178]<br />
</em>Saat ini kondisinya membingungkan dimana antara yang haq dan yang bathil sudah banyak bercampur aduk. Maka jika ada petunjuk yang datangnya tidak dari Allah swt dan Rasul-Nya, buang jauh-jauh.<br />
Kita tidak dapat menanggung dosa orang lain, karena menanggung dosa diri kita sendiri saja kita sudah kewalahan.<br />
Yang dimaksud jama’atul muslimin adalah adanya jamaah dan imam sebagaimana QS 48:10.<br />
<em>QS Al Fath (48) 10<br />
</em><em>bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah[*]. tangan Allah di atas tangan mereka[**], Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.<br />
</em>[*] Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan &#8216;umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai&#8217;ah (janji setia) kepada beliau. merekapun Mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai&#8217;atur Ridwan. Bai&#8217;atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk Mengadakan Perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.<br />
[**] Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.<br />
Para sahabat, orang Muhajirin dan orang Anshar yang berjanji setia (baiat) kepada Rasul saw maka sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah swt.<br />
Allah meridhai orang-orang yang mengadakan baiat sebagaimana QS 48:18.<br />
<em>QS Al Fath (48) 18<br />
</em><em>Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon[*], Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)[**].<br />
</em>[*] Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan &#8216;umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai&#8217;ah (janji setia) kepada beliau. merekapun Mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai&#8217;atur Ridwan. Bai&#8217;atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk Mengadakan Perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.<br />
[**] Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=629</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120512_sg.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Sugeng

QS Al Maaidah (5) 105
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Sugeng

QS Al Maaidah (5) 105
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
[*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Perlu jaga diri masing-masing karena kadang-kadang lengah, kadang-kadang sembrono, kadang-kadang lalai. Orang yang beriman akan dijaga oleh Allah, walaupun apapun yang terjadi. Kembali kepada Allah pasti, hanya tinggal menunggu saat. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini kelak akan ldquo;diputarrdquo; kembali. Oleh karenanya mumpung kita masih hidup, lakukan amar marsquo;ruf nahi munkar. Amar marsquo;ruf adalah apa yang diperintahkan Allah #38; Rasul-Nya, nahi munkar adalah apa yang dilarang Allah #38; Rasul-Nya.
Hadits Rasulullah saw :
Dari Abu Umayyah Asy-Syarsquo;baniy, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Abu Tsarsquo;labah, aku bertanya, ldquo;Hai Abu Tsarsquo;labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat lsquo;alaikum anfusakum ? ndash; Al-Maaidah : 105rdquo;. Ia berkata, ldquo;Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAWrdquo;, beliau bersabda, ldquo;Tetapi hendaklah kalian amar marsquo;ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan ditharsquo;ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran. Shabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar marsquo;ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti diardquo;. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku selain dia, ia berkata, ldquo;Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari mereka ?rdquo;. Beliau menjawab, ldquo;Pahala lima puluh orang dari kalianrdquo;. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123]
Tidak tertarikkah kita untuk ldquo;membangun rumahrdquo; di surga? Kebanyakan orang lebih cenderung bakhil daripada dermawan, lebih cenderung mengumbar nafsu daripada mengendalikannya, lebih cenderung berorientasi keduniawian daripada keakhiratan. Mari apa yang ada pada kita disyukuri.
Dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata : Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir kalau keburukan itu akan menimpa saya. Saya bertanya, ldquo;Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di masa jahiliyah dan dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan ?rdquo;. Nabi SAW menjawab, ldquo;Yardquo;. Saya bertanya lagi, ldquo;Dan apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan?rdquo;. Nabi SAW menjawab, ldquo;Yardquo;. Dan padanya ada asap kelabu (percampuran yang baik dan yang buruk). Saya bertanya, ldquo;Apa itu yang dimaksud asap ?rdquo;. Nabi SAW menjawab, ldquo;Ada suatu kaum yang memakai petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinyardquo;. Saya bertanya, ldquo;Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan ?rdquo;. Nabi SAW menjawab, ldquo;Ya, yaitu orang-orang yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka (mengikutinya), maka mereka akan melemparkannya ke Jahannamrdquo;. Saya bertanya lagi, ldquo;Ya Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat mereka kepada kamirdquo;. Nabi SAW bersabda, ldquo;Mereka adalah orang-orang dari daging kulit kita sendiri, dan mereka berbicara dengan lisan kitardquo;. Saya bertanya lagi. ldquo;Lalu apa yang engkau perintahkan kepada saya jika saya mendapati yang demikian itu ?rdquo;. Beliau...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Membela Perjuangan Dakwah Islam</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=625</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=625#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 10:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Suparyanto
Salah satu tanda seseorang dicintai Allah dengan diuji, bahkan ditimpakan musibah. Begitu juga untuk keluarga, begitu juga untuk jamaah. Atas pemberitaan yang tidak benar tentang dakwah MTA kita, kita harus tetap mensikapinya dengan benar sesuai kacamata Islam. Itu semua tentu tak lepas dari Allah, dan itu menjadi ujian bagi kita.
QS Al ‘Ankabuut (29) 2-3
2. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Suparyanto</strong></p>
<p>Salah satu tanda seseorang dicintai Allah dengan diuji, bahkan ditimpakan musibah. Begitu juga untuk keluarga, begitu juga untuk jamaah. Atas pemberitaan yang tidak benar tentang dakwah MTA kita, kita harus tetap mensikapinya dengan benar sesuai kacamata Islam. Itu semua tentu tak lepas dari Allah, dan itu menjadi ujian bagi kita.<br />
<em>QS Al ‘Ankabuut (29) 2-3<br />
</em><em>2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi?<br />
</em><em>3. dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.<br />
<span id="more-625"></span></em>Hadits Rasul :<br />
<em>Sahabat mulia Anas ibn Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : &#8221; sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat, jika Allah mencintai satu kaum, maka Ia menguji mereka, siapa yang ridha [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah, siapa yang marah/tidak senang [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan murkaNya &#8221; [HR At-Tirmidzi]<br />
</em>Banyak orang yang sedikit melakukan suatu aktivitas, sudah mengaku beriman. Padahal iman itu akan ada ujiannya baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat maupun dalam kebersamaan jamaah dakwah. Banyak orang yang tidak sanggup dalam ujian keimanan ini. Bukti ujian keimanan tersebut tidak hanya dalam konteks sabar saja, namun apa yang dilakukan dalam menghadapi ujian atau mengatasi masalah tersebut, dan semua itu akan terlihat oleh Allah.<br />
Rasul saw jika secara pribadi dihina, dicaci dan apapun yang merendahkan maka dibiarkan dan dimaafkan. Namun jika urusannya terkait Islam, maka Rasul saw akan membela dengan segenap jiwa raga. Bagaimana dengan kita? Kita kebanyakan terbalik. Jika urusan pribadi  kita akan marah, namun kala Islam dan perjuangan dakwahnya yang dicaci/dicela, kita membiarkannya. Sampai dimana keimanan kita? Sampai dimana pembelaan kita terhadap Islam? Mari rapatkan barisan untuk membela dakwah Islam. Prioritaskan kepentingan dakwah Islam di atas kepentingan pribadi.<br />
Saat ini di negara kita enak sekali dimana jika mau mengaji tanpa istirahtpun akan terjadi. Namun dengan keadaan ini banyak yang lengah.<br />
Tidak ada satupun orang beriman yang tidak diuji oleh Allah, dan itu tidak bisa dipisahkan. Iman dan ujian itu satu paket. Jika kita dalam kebersamaan berjamaan, mengamalkan Qur’an dan Sunnah maka tentu kita akan diuji.<br />
Hadits Rasul :<br />
<em>Dari Sahl bin Sa’d As-Saa’idiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing”. Para shahabat bertanya, “Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusak”</em>. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]<br />
Maka setelah mengaji, dalam pengamalannya MTA akan tentu beda. Bedanya bukan sekedar beda dengan orang kebanyakan atau berarti asal, namun karena mengikuti apa yang diajarkan dalam Qur’an dan Sunnah. Saat kita mengamalkan hingga menjadi beda itulah muncul banyak ujian. Kita mensikapi ujian tersebut harus tetap menjunjung tinggi persatuan, karena persatuan merupakan hal yang penting. Itu semua harus dilakukan dalam rangka kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.<br />
Hadits Rasul :<br />
<em>Man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu. (H.R Abu Daud)<br />
</em>Ujian Allah terhadap orang beriman sudah terjadi sejak dahulu, untuk mengetahui siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya tidak benar. Oleh karenanya pererat persatuan dalam kebersamaan jamaah. Lakukan ikhtiar berupa langkah nyata baik ke dalam maupun ke luar. Tidak cukup sekedar sabar dan menerima keadaan. Jangan sampai kita maupun perjuangan dakwah kita dilecehkan orang lain / pihak luar karena kita terlalu “sabar”. Keberadaan kita harus nampak, jangan sampai ada / tidaknya kita tidak ada bedanya.<br />
Jika kita sudah cukup lama mengaji, maka “menggenggam bara api” sudah harus sampai mati. Maka jangan sampai lepaskan agama. Jangan sampai kita hanya takut kepada manusia, sementara hati kita jauh dari takut kepada Allah. Jika seperti ini, maka agama seperti buih di lautan. Terlihat namun tiada kualitasnya.<br />
Tentu indah sekali jika kita bisa lulus ujian keimanan, itulah kenikmatan yang tiada tara. Seperti kisah Bilal yang walaupun ujian yang dihadapinya sangat luar biasa, namun dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan dalam keimanan yang luar biasa. Jangan korbankan kenikmatan akhirat hanya karena kenikmatan dunia yang sekedarnya.<br />
Dengan adanya ujian keimanan apapun, gunakan akalnya, gunakan pikirannya untuk membela perjuangan dakwah Islam. Jika emas, tunjukkan emas itu.</p>
<p> Pertanyaan :<br />
1. Bagaimana tentang mandi sunah sebelum sholat Jumat?<br />
2. Bagaimana hukum sholat jamaah bagi pria?<br />
3. Bagaimana sebaiknya posisi Ibu-Ibu dalam sholat berjamaan di masjid?<br />
4. Sampai sejauh mana tidak boleh melewati orang sholat?<br />
5. Bagaimana sholat jamaah dilakukan dua kali?<br />
6. Bagaimana dengan kebiasaan di instansi/sekolah yang secara syariat tidak ada tuntunannya?</p>
<p> Jawaban :<br />
1. Bahasa mandi itu mestinya meliputi seluruh tubuh, termasuk kepala (seluruhnya basah).<br />
2. Karena pentingnya sholat berjamaah di masjib, Rasul sangat menekankan sholat berjamaah di masjid. Kecuali jika secara syariat tidak memungkinkan (sakit, hujan lebat). Dengan pertemuan dengan saudara muslim di masjid, menjadikan silaturahim semakin indah.<br />
3. Sebaik-baik shaf wanita di belakang, dan laki-laki di depan. Masjid yang belum seperti itu harus dibuat seperti itu karena memang syariatnya seperti itu.<br />
4. Batasannya tempat sujud. Maka orang sholat mestinya matanya tertuju ke tempat sujud. Maka sebaiknya ada sutrah (pembatas) saat kita sholat. Jaman sahabat sutrahnya dengan pedang.<br />
5. Hadits Rasul :<br />
<em>Abu Daud meriwayatkan dari Jabir bin Yazid bin Al-Aswad dari Ayahnya bahwasanya dia pernah shalat bersama Rasulullah saw sementara ketika itu dia masih muda. Tatkala shalat telah selesai dilaksanakan, ada dua orang laki-laki yang berada di salah satu sudut masjid tidak melaksanakan shalat, maka beliau memanggil keduanya dan keduanya pun didatangkan dalam kondisi merinding bulu kuduknya, lalu beliau bersabda: &#8220;Apakah yang menghalangi kalian berdua untuk melaksanakan shalat bersama kami?&#8221; Mereka menjawab; Kami sudah melaksanakannya di rumah kami. Beliau bersabda: &#8220;Janganlah kalian melakukannya lagi, apabila seseorang di antara kalian sudah melaksanakan shalat di rumahnya, lalu mendapatkan imam sedang shalat, maka shalatlah bersamanya, karena yang ini baginya adalah nafilah (sholat sunnah).<br />
</em>Pemahaman (dari beberapa pendapat) :<br />
- Boleh dua kali karena ingin mendapatkan jamaah<br />
- Mengambil dasar hukum persis seperti yang disampaikan Rasul saw<br />
- Jika pulang dan istrinya ingin mendapatkan jamaah, maka bisa menjadi imam<br />
Hadits Rasul :<br />
<em>“Dari Abu Said Al Khudri bahwasanya ada seorang laki-laki yang masuk ke masjid sementara Rasulullah Shallalhu alaihi wa sallam telah selesai melakukan sholat bersama para sahabat beliau. Lalu Rasulullah Shallalhu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang ingin bersedekah kepada laki-laki ini dengan cara sholat bersamanya?” </em><em>Maka berdirilah salah seorang dari jamaah dan sholat bersama laki-laki tersebut.” (HR. Ahmad No 11016)<br />
</em>6. Pilih sekolah yang memenuhi syariat Islam. Tujuan pendidikan tidak hanya hasil ujian yang bagus. Maka “alihkan” kebiasaan yang tidak sesuai tersebut dengan cara-cara yang sesuai syariat Qur’an dan Sunnah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=625</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120505_sp.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Suparyanto

Salah satu tanda seseorang dicintai Allah dengan diuji, bahkan ditimpakan musibah. Begitu juga untuk keluarga, begitu juga untuk jamaah. Atas pemberitaan yang tidak benar ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Suparyanto

Salah satu tanda seseorang dicintai Allah dengan diuji, bahkan ditimpakan musibah. Begitu juga untuk keluarga, begitu juga untuk jamaah. Atas pemberitaan yang tidak benar tentang dakwah MTA kita, kita harus tetap mensikapinya dengan benar sesuai kacamata Islam. Itu semua tentu tak lepas dari Allah, dan itu menjadi ujian bagi kita.
QS Al lsquo;Ankabuut (29) 2-3
2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
3. dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Hadits Rasul :
Sahabat mulia Anas ibn Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : " sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat, jika Allah mencintai satu kaum, maka Ia menguji mereka, siapa yang ridha [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah, siapa yang marah/tidak senang [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan murkaNya " [HR At-Tirmidzi]
Banyak orang yang sedikit melakukan suatu aktivitas, sudah mengaku beriman. Padahal iman itu akan ada ujiannya baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat maupun dalam kebersamaan jamaah dakwah. Banyak orang yang tidak sanggup dalam ujian keimanan ini. Bukti ujian keimanan tersebut tidak hanya dalam konteks sabar saja, namun apa yang dilakukan dalam menghadapi ujian atau mengatasi masalah tersebut, dan semua itu akan terlihat oleh Allah.
Rasul saw jika secara pribadi dihina, dicaci dan apapun yang merendahkan maka dibiarkan dan dimaafkan. Namun jika urusannya terkait Islam, maka Rasul saw akan membela dengan segenap jiwa raga. Bagaimana dengan kita? Kita kebanyakan terbalik. Jika urusan pribadinbsp; kita akan marah, namun kala Islam dan perjuangan dakwahnya yang dicaci/dicela, kita membiarkannya. Sampai dimana keimanan kita? Sampai dimana pembelaan kita terhadap Islam? Mari rapatkan barisan untuk membela dakwah Islam. Prioritaskan kepentingan dakwah Islam di atas kepentingan pribadi.
Saat ini di negara kita enak sekali dimana jika mau mengaji tanpa istirahtpun akan terjadi. Namun dengan keadaan ini banyak yang lengah.
Tidak ada satupun orang beriman yang tidak diuji oleh Allah, dan itu tidak bisa dipisahkan. Iman dan ujian itu satu paket. Jika kita dalam kebersamaan berjamaan, mengamalkan Qurrsquo;an dan Sunnah maka tentu kita akan diuji.
Hadits Rasul :
Dari Sahl bin Sarsquo;d As-Saarsquo;idiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, ldquo;Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asingrdquo;. Para shahabat bertanya, ldquo;Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?rdquo;. Beliau bersabda, ldquo;Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusakrdquo;. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]
Maka setelah mengaji, dalam pengamalannya MTA akan tentu beda. Bedanya bukan sekedar beda dengan orang kebanyakan atau berarti asal, namun karena mengikuti apa yang diajarkan dalam Qurrsquo;an dan Sunnah. Saat kita mengamalkan hingga menjadi beda itulah muncul banyak ujian. Kita mensikapi ujian tersebut harus tetap menjunjung tinggi persatuan, karena persatuan merupakan hal yang penting. Itu semua harus dilakukan dalam rangka kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hadits Rasul :
Man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu. (H.R Abu Daud)
Ujian Allah terhadap orang beriman sudah terjadi sejak dahulu, untuk mengetahui siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya tidak benar. Oleh karenanya pererat persatuan dalam kebersamaan jamaah. Lakukan ikhtiar berupa langkah nyata baik ke dalam maupun ke luar. Tidak cukup sekedar sabar dan menerima keadaan. Jangan sampai kita maupun perjuangan dakwah kita dilecehkan orang lain / pihak luar karena kita terlalu ldquo;saba...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Sejauh Mana Kita Yakin terhadap Al Qur’an?</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=623</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=623#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 18:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=623</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Busroni
Yang dikaji di MTA adalah Al Qur’an, maka jika tidak ada hati yang ikhlas tidak akan bisa tahan lama. Yang menentukan hati kita Allah. Kita bisa mengaji juga karena Allah. Kita mau mengaji juga karena adanya firman Allah.
QS Al Anfaal (8) 63
dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[*]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Busroni</strong></p>
<p>Yang dikaji di MTA adalah Al Qur’an, maka jika tidak ada hati yang ikhlas tidak akan bisa tahan lama. Yang menentukan hati kita Allah. Kita bisa mengaji juga karena Allah. Kita mau mengaji juga karena adanya firman Allah.<br />
<em>QS Al Anfaal (8) 63<br />
</em><em>dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[*]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.<br />
</em>[*] Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.<br />
<span id="more-623"></span>Apa yang dicari di MTA? Tentu dalam rangka memahami Al Qur’an. Hakekat kita bisa mengaji bersama di MTA juga hanya karena ijin Allah. Oleh karena itu, dalam rangka mensyukuri jangan berbuat sesuatu sehingga membuat hati saling tidak ketemu. Saling mengejek/mencela hanya akan mengotori hati, mari kita hindari sikap demikian. Setiap orang selalu punya kelebihan dan kekurangan, maka cukuplah dilihat kelebihannya saja. Untuk kekurangannya, berikanlah maaf. <em>Lalekno tumindake olo marang siro</em>, demikian salah satu nasehat Jawa yang berarti agar kita segera melupakan jika orang lain berbuat jelek kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada orang lain segera lupakan, agar menjadi keikhlasan. Sebaliknya jika orang lain berbuat baik kepada kita, kita ingat-ingat terus agar kita bisa membalas kebaikannya. Dengan demikian kita bisa menjadi orang yang baik. Apalagi jika kita mengingat kebaikan Allah, kita tidak akan bisa menghitung kebaikan Allah kepada kita. Jika kita ingat kebaikan Allah dan bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepada kita.<br />
Hati yang sudah bertemu itu mahal harganya, oleh karenanya di MTA dibentuk kepengurusan agar bisa semakin membawa kebaikan. Jika kita shalat berjamaan, makmum harus taat kepada imam selama imam itu benar. Jika imam salah kewajiban makmum mengingatkan bukan membangkang. Setiap langkah kita harus hati-hati, terutama terhadap hal-hal yang bisa membuat rusaknya kesatuan hati. Kesatuan hati yang karena Al Qur’an sehingga kita mau mengaji sangat mahal harganya karena Allah yang memberi.<br />
Suudzon akan merusak hati, oleh karenanya jangan menilai seseorang. Lakukan segala sesuatu dengan pendekatan yang baik.<br />
<em>QS Al Hujuraat (49) 12<br />
</em><em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.<br />
</em>Jika kita mengamalkan hasil ngaji, maka akhlak kita juga akan terlatih, di antaranya : menghormati orang tua, mempersilahkan duduk untuk orang yang lebih memerlukan di kendaraan umum.<br />
<em>QS Al Baqarah (2) 2<br />
</em><em>Kitab[*] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[**],<br />
</em>[*] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.<br />
[**] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.<br />
Sebenarnya dengan semua kegiatan yang kita lakukan, membuktikan sejauh mana tidak ragu kita kepada Al Qur’an. Lalu, bagaimana pelaksanaannya? Sebagaimana QS 64:14-17<br />
<em>QS At Taghabuun (64) 14-17<br />
</em><em>14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[*] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.<br />
</em><em>15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.<br />
</em><em>16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu[**]. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.<br />
</em><em>17. jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.<br />
</em>[*] Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau Ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.<br />
[**] Maksudnya: nafkahkanlah nafkah yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.<br />
Bertaqwa kepada Allah menurut kesanggupanmu dalam artian semaksimalnya, bukan selonggarnya. Ciri orang bertaqwa sesuai QS 2:3 adalah adanya amal hati, amal anggota badan dan amal harta.<br />
Bagaimana cara amal harta?<br />
- Infaq wajib : wajib permanen (belanja keluarga, zakat), wajib insidentil<br />
- Infaq sunnah<br />
Saat kita mengeluarkan harta untuk sabilillah, jika kita yakin kepada Allah maka itu semua akan dilipatgandakan oleh Allah. Kenapa saat Allah menjanjikan kebaikan dari amal sholih kita tidak sebegitu menarik dibandingkan hanya sekedar janji manis manusia di dunia?<br />
Jika kita yakin maka tidak hanya berwujud ucapan, tapi harus menjadi amalan nyata. Sabilillah hanya semata-mata untuk Allah, tidak ada dan tidak boleh secuilpun diperuntukkan untuk selain Allah. Maka, kegiatan sabilillah tidak akan pernah ada akhirnya ataupun berhenti.<br />
<em>QS Al Insyirah (94) 1-8<br />
</em><em>1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,<br />
</em><em>2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,<br />
</em><em>3. yang memberatkan punggungmu[*1]?<br />
</em><em>4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[*2],<br />
</em><em>5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,<br />
</em><em>6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.<br />
</em><em>7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[*3],<br />
</em><em>8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.<br />
</em>[*1] Yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.<br />
[*2] Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini Maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi Termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.<br />
[*3] Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.<br />
Dakwah, awalnya selalu banyak rintangan, begitu pula dialami Rasul saw dan para sahabat. Namun karena ketahanan dan keyakinan, musuh-musuh dakwah akhirnya akan kendor. Hingga orang Barat pun menuliskan Rasul Muhammad saw sebagai tokoh dengan urutan nomor 1 di dunia sebagai orang yang paling berhasil di antara 100 tokoh yang paling berhasil. Jika orang yakin kepada Allah, maka tidak ada siapapun / sesuatupun yang dapat menakutinya dalam menaati perintah Allah maupun dalam menyebarkan dakwah. Pikiran orang beriman selalu cerah dan positip. Tidak akan ada orang yang beriman mempunyai pikiran yang “nglokro” hingga akhirnya bunuh diri dengan berbagai cara. Tidak ada putus asa, dan yakin di balik kesulitan yang dihadapi akan mengundang datangnya kemudahan. Semua itu dihadapi dengan rasa senang. Maka beginilah harusnya sikap orang ngaji saat menghadapi kesulitan / kesusahan apapun. Jika kita yakin kepada Allah maka akan yakin baik dalam kehidupan maupun dakwah, setiap ada kesulitan akan datang kemudahan. Tiada manfaat kita mengeluh dalam hal apapun. Hanya cukup mensikapi dan mengambil tindakan positip yang membawa kebaikan. Dalam rangka meningkatkan ukhuwah dan syiar dakwah Islam, maka kebersamaan dalam sabilillah menjadi hal yang penting. Pada akhirnya semua yang kita lakukan hanya dan karena mengharap ridha Allah.<br />
Ketika Siti Hajar akan ditinggal oleh Nabi Ibrahim di gurun pasar dan tanah berbatu, bertanya “pergimu kehendakmu atau kehendak Allah?”. “Kehendak Allah” begitu jawab Nabi Ibrahim. Maka Siti Hajar mengikhlaskan “pergilah”. Dari kisah ini menunjukkan betapa keyakinan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar terhadap Allah dan kuasa-Nya. Dan terbukti bahwa setelah usahanya yang maksimal dari Siti Hajar, pertolongan Allah datang juga.<br />
Iman itu ikrar pada lisannya, yakin pada hatinya, dan wujud dalam amal perbuatannya. Jika ikrar saja tanpa ada perbuatan maka disebut munafiq.<br />
Jika di MTA, ngaji ya biaya sendiri, guru daerah berangkat juga berangkat sendiri. Yang terjadi adalah kebersamaan dalam mengambil bagian dalam dakwah sesuai kemampuan masing-masing. Kebersamaan inilah yang begitu indah, sesuai dengan ilmu, tenaga, harta yang kita miliki dan bisa kita manfaatkan. Itu semua terjadi jika harapannya hanya kepada Allah. Jika berharap kepada selain Allah maka dijamin tidak akan tahan lama. Oleh karenanya jangan sampai kita terjatuh/rontok dari ikatan kebersamaan dakwah, karena begitu jatuh/rontok maka pondasinya menjadi lemah.<br />
Semoga kita hanya berharap kepada Allah. Jaga hati dan tetap jaga pertemuan hati dalam kebersamaan dakwah. Yakinkan diri kita terhadap seruan Allah.</p>
<p>Pertanyaan :<br />
<em>Bagaimana cara agar menghilangkan ketakutan dan bisa sukses dunia-akhirat?<br />
</em><em>QS Ath Thalaaq (65) 2-3<br />
</em><em>2. apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.<br />
</em><em>3. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.<br />
</em>Kita harus punya keyakinan bahwa Allah itu Maha Bijaksana, segala sesuatu sudah diukur kadarnya, juga kesulitan yang diberikan kepada kita. Jika ada kesulitan tetap sabar dan taat, maka pertolongan Allah akan datang. Semoga ayat-ayat Al Qur’an yang kita pelajari menambah keimanan dan keyakinan kita sehingga semakin lama keyakinan kita semakin mantab, iman semakin bertambah hingga akhirnya mati dalam keadaan iman yang sempurna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=623</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120428_bs.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Busroni

Yang dikaji di MTA adalah Al Qurrsquo;an, maka jika tidak ada hati yang ikhlas tidak akan bisa tahan lama. Yang menentukan hati kita Allah. ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Busroni

Yang dikaji di MTA adalah Al Qurrsquo;an, maka jika tidak ada hati yang ikhlas tidak akan bisa tahan lama. Yang menentukan hati kita Allah. Kita bisa mengaji juga karena Allah. Kita mau mengaji juga karena adanya firman Allah.
QS Al Anfaal (8) 63
dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[*]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.
[*] Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.
Apa yang dicari di MTA? Tentu dalam rangka memahami Al Qurrsquo;an. Hakekat kita bisa mengaji bersama di MTA juga hanya karena ijin Allah. Oleh karena itu, dalam rangka mensyukuri jangan berbuat sesuatu sehingga membuat hati saling tidak ketemu. Saling mengejek/mencela hanya akan mengotori hati, mari kita hindari sikap demikian. Setiap orang selalu punya kelebihan dan kekurangan, maka cukuplah dilihat kelebihannya saja. Untuk kekurangannya, berikanlah maaf. Lalekno tumindake olo marang siro, demikian salah satu nasehat Jawa yang berarti agar kita segera melupakan jika orang lain berbuat jelek kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada orang lain segera lupakan, agar menjadi keikhlasan. Sebaliknya jika orang lain berbuat baik kepada kita, kita ingat-ingat terus agar kita bisa membalas kebaikannya. Dengan demikian kita bisa menjadi orang yang baik. Apalagi jika kita mengingat kebaikan Allah, kita tidak akan bisa menghitung kebaikan Allah kepada kita. Jika kita ingat kebaikan Allah dan bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepada kita.
Hati yang sudah bertemu itu mahal harganya, oleh karenanya di MTA dibentuk kepengurusan agar bisa semakin membawa kebaikan. Jika kita shalat berjamaan, makmum harus taat kepada imam selama imam itu benar. Jika imam salah kewajiban makmum mengingatkan bukan membangkang. Setiap langkah kita harus hati-hati, terutama terhadap hal-hal yang bisa membuat rusaknya kesatuan hati. Kesatuan hati yang karena Al Qurrsquo;an sehingga kita mau mengaji sangat mahal harganya karena Allah yang memberi.
Suudzon akan merusak hati, oleh karenanya jangan menilai seseorang. Lakukan segala sesuatu dengan pendekatan yang baik.
QS Al Hujuraat (49) 12
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Jika kita mengamalkan hasil ngaji, maka akhlak kita juga akan terlatih, di antaranya : menghormati orang tua, mempersilahkan duduk untuk orang yang lebih memerlukan di kendaraan umum.
QS Al Baqarah (2) 2
Kitab[*] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[**],
[*] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[**] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
Sebenarnya dengan semua kegiatan yang kita lakukan, membuktikan sejauh mana tidak ragu kita kepada Al Qurrsquo;an. Lalu, bagaimana pelaksanaannya? Sebagaimana QS 64:14-17
QS At Taghabuun (64) 14-17
14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[*] Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hany...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Terhadap Takdir Allah, Bagaimana Sikap Kita? (2)</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=619</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=619#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 10:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Suparyanto
Ada seorang Nabi yang ketika menyeru kepada umatnya, sampai waktu yang cukup lama tidak mendapatkan seorangpun. Nabi tersebut adalah Nabi Yunus. Bahkan yang didapat adalah cercaan, hujatan dan hinaan. Saat disampaikan peringantan Allah, tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Karena terjadi cukup lama dan umat terus menghujatnya. Akhirnya setelah sekian lama tidak ada tanggapan, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Suparyanto</strong></p>
<p>Ada seorang Nabi yang ketika menyeru kepada umatnya, sampai waktu yang cukup lama tidak mendapatkan seorangpun. Nabi tersebut adalah Nabi Yunus. Bahkan yang didapat adalah cercaan, hujatan dan hinaan. Saat disampaikan peringantan Allah, tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Karena terjadi cukup lama dan umat terus menghujatnya. Akhirnya setelah sekian lama tidak ada tanggapan, maka Nabi Yunus meninggalkan mereka sampai perjalanannya begitu jauh. Nabi Yunus akhirnya naik kapal dalam keadaan “jengkel” kepada umatnya yang tidak mau diajak menuju perintah Allah. Suatu ketika terjadi badai yang mengharuskan barang-barang di kapal harus dibuang ke laut agar bisa selamat. Namun badai tetap berlangsung, dan akhirnya nakhoda kapal menyampaikan bahwa di antara penumpang harus ada yang dibuang di laut. Akhirnya diadakan lot/undian. Ternyata terpilihlah Nabi Yunus. Namun beberapa orang tidak rela Nabi Yunus yang baik itu dibuang ke laut, hingga akhirnya lot/undia diulangi lagi hingga semuanya 3x. Namun tetap saja akhirnya yang terpilih Nabi Yunus. Nabi Yunus menyampaikan, memang demikianlah kehendak Allah. Akhirnya Nabi Yunus dilemparkan ke laut dan dimakan ikan paus.<br />
Saat Nabi Yunus di perut ikan, Nabi Yunus melakukan :<br />
1. Bertaubat, menyesal, merasa salah, mohon ampun kepada Allah karena telah meninggalkan umatnya, membimbingnya tidak sam<br />
2. Menyatakan  bahwa Nabi Yunus telah membangun masjid, namun masjid itu belum digunakan sholat satu kalipun oleh umatnya dan berdoa agar diselamatkan hingga bisa kembali lagi kepada umatnya.<br />
Di sisi yang lain, sebenarnya saat Nabi Yunus meninggalkan umatnya, tanda-tanda musibah terjadi di langit hingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa, dan saat mereka mencari Nabi Yunus, tidak dijumpai lagi karena Nabi Yunus sudah pergi jauh.<br />
Saat pada akhirnya Nabi Yunus selamat dari perut ikan dan ancaman kelaparan, Nabi Yunus kembali pada umatnya dan disambut sekira 25.000 orang umatnya yang sudah taat.<br />
<span id="more-619"></span>Dari pelajaran Nabi Yunus ini, maka kita harus sabar dan gigih dalam berdakwah dan mengajak umat untuk mengaji ayat Allah. Jadi kita harus sabar, tawakal, sunatullah kita tempuh dengan sungguh-sungguh.<br />
Jika orang mukmin memahami tiga hal, maka dia akan selamat dari tiga hal :<br />
<em>“Jika orang mukmin memahami bahwa Allah dalam menciptakan segala sesuatu tidak pernah salah, maka dia akan selamat dari menghina / mencaci”<br />
</em>Ciptaan Allah bisa dalam bentuk apapun dalam kehidupan sehari-hari. Jika sesuatu sudah terjadi, maka itulah ketentuan Allah. Jika sesuatu belum terjadi, maka itu belum tentu ketentuan Allah. Allah tidak pernah salah dalam ketentuan-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menghina ciptaan Allah. Sebenarnya yang pantas kita hina bukan dzat-nya, teapi lebih kepada sifatnya. Yang bisa kita lakukan saat ada sesuatu yang tidak pas, maka kita berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian.<br />
<em>“Jika orang mukmin memahami bahwa Allah tidak pilih kasih dalam memberi rizki, maka dia akan selamat dari perasaan dengki”<br />
</em>Siapa saja yang menempuh sunatullah dengan sungguh-sungguh maka Allah akan memberikan apa yang diusahakan. Banyak sedikitnya yang diperoleh tentu karena sunatullah yang sudah ditempuh. Harus kita yakini bahwa apa yang diperoleh hanya dari Allah. Dengan adanya keyakinan demikian maka tidak ada rasa dengki, karena semua datangnya dari Allah.<br />
<em>Nasehat dari Rasul saw dalam HR Tirmidzi :<br />
</em><em>Jadikanlah dunia itu di tanganmu dan jadikanlah Allah itu dihatimu.<br />
</em>Jika hati kita sudah ada Allah dan tangan kita dalam kendali hati, maka kita sudah berada dalam jalan yang benar. Jangan sebaliknya dimana dunia ada di hati, maka Allah akan jauh dari kita.<br />
<em>“Jika orang mukmin memahami bahwa dia diciptakan dari bahan yang sama yaitu tanah, maka dia akan selamat dari kesombongan”<br />
</em>Asal manusia sama dari saripati tanah, maka tidak layak kita muncul kesombongan walaupun kita dalam beberapa hal lebih dari yang lain.<br />
<em>Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”<br />
</em>Manusia juga tidak berhak sombong, karena kesombongan itu pakaian Allah.<br />
<em>Allah swt berfirman, sifat sombong itu selendang-KU, dan keagungan itu pakaian-KU. Barangsiapa yang menentang-KU dari keduanya, maka AKU masukkan ia ke neraka Jahannam. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).<br />
</em><em>QS Ali Imran (3) 26-27 (agar dihafalkan dan diamalkan)<br />
</em><em>26. Katakanlah: &#8220;Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.<br />
</em><em>27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[*]. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)&#8221;.<br />
</em>[*] Sebagian mufassirin memberi misal untuk ayat ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.<br />
Kerajaan disini bisa berarti raja ataupun kejayaan apapun. Semua harus diyakini dari Allah. Maka apapun yang kita rasakan/terima sekarang ini, harus dilakukan dengan amanah, karena semuanya dari Allah. Semua adalah pinjaman dari Allah, suatu saat akan kembali lagi kepada Allah. Kita hanya dapat hak pakai saja.<br />
Orang yang dimuliakan Allah, maka sunatullahnya orang itu juga baik. Kita ngaji seperti ini juga dalam rangka agar dimuliakan Allah, diridhai Allah. Maka, Allah akan memuliakan orang yang dikehendaki-Nya, dimana orang itu ada langkah untuk menuju kemuliaan di hadapan Allah. Jika kita meyakini jika takdir Allah itu ada, maka kita akan selalu melangkah dalam kebaikan. Kemelaratan dan kehinaan itu beda, dimana melarat belum tentu hina. Kita tidak seperti apa catatan Allah, namun kita harus yakin untuk terus melangkah dalam jalan yang baik. Oleh karenanya kita harus terus memohon kekuatan kepada Allah untuk dapat melangkah dalam jalan kebaikan dan kebenaran. Semua kebaikan di tangan Allah, oleh karenanya mintalah kepada Allah, namun sunatullahnya harus kita tempuh.<br />
Jika Allah memberikan petunjuk, tidak ada yang bisa menghalangi (contoh Nabi Nuh kepada putranya, tidak bisa memberikan petunjuk). Jika Allah memberikan kesesatan, tidak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi.<br />
<em>QS Yunus (10) 31<br />
</em><em>Katakanlah: &#8220;Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[*] dan siapakah yang mengatur segala urusan?&#8221; Maka mereka akan menjawab: &#8220;Allah&#8221;. Maka Katakanlah &#8220;Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?&#8221;<br />
</em>[*] Sebagian mufassirin memberi misal untuk ayat ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.<br />
Inilah bedanya keimanan orang yang betul-betul mukmin dengan yang tidak. Barang jika palsu, maka yang sama dalamnya atau luarnya? Tentu luarnya. Yang namanya palsu, yang sama yang bagian luarnya. Yang menyamakan mukmin dan munafiq hanya casingnya. Orang munafiq itu adalah orang mukmin yang palsu, karena hanya luarnya saja. Mengapa orang munafiq dihukum lebih berat dari orang kafir karena kepalsuannya itu tadi. Mereka percaya tapi tidak taat. Mungkinkah kita yang ngaji ini termasuk golongan munafiq? Jawabnya adalah mungkin. Oleh karenanya mari kita memohon perlindungan kepada Allah dari sifat kemunafikan ini.<br />
Jika kita baru pada tahap percaya bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah maka keimanan kita baru selevel Abu Lahab, Abu Jahal.<br />
Kembali kepada QS 3:27, maka begitu besarnya kekuasaan Allah yang kita tidak mau menyadari (pergantian siang-malam, perjalanan hidup-mati makhluk, memberi rizki kepada yang dikehendaki-Nya tanpa batas). Jika manusia sudah mengetahui hakekat bahwa Allah akan memberikan rizki kepada hamba-Nya tanpa batas dan Allah itu Maha Kaya, maka tidak akan pernah berputus asa dari rahmat Allah (contoh Nabi Ayyub, setelah sembuh dan bangkit lagi, kemudian menyampaikan dakwahnya, hingga akhirnya melanjutkan keturunannya). Dengan keyakinan bahwa di balik segala sesuatu selalu ada Allah, maka akhirnya tawakkal. Maka tidak cukup hanya sekedar usaha dan doa, harus ada tawakkal. Entah dikabulkan atau tidak, urusan Allah. Allah Maha Tahu apa yang baik bagi hamba-Nya, karena pada dasarnya hamba tidak tahu (contoh : kisah Sa’labah yang hanya punya 1 minta didoakan Rasul saw agar diberikan harta oleh Allah, hingga akhirnya harta itu semakin menjauhkannya dari Allah).<br />
Mengapa orang Islam wajib melaksanakan zakat, karena rizki ada hubungannya dengan keimanan. Orang jika fakir, akan mendekati kekufuran (contoh : ada seorang wanita yang membuang bayinya setelah melahirkan atau membunuh anaknya. Itu semua lebih karena faktor ekonomi. Karena kefakiran seperti itu yang dapat merontokkan keimanannya). Itulah yang ditakutkan Islam, jika ada saudaranya yang masuk neraka karena miskin. Oleh karenanya bagi muslim yang mampu harus peduli kepada lingkungannya. Itulah ajaran Islam, tidak sekedar kepedulian saudara lain bisa makan atau tidak, tapi lebih kepada keuatiran akan kekufuran keimanan.<br />
Maka di MTA, jika ada warga ngaji yang sampai terlantar, Majlis lebih baik dibubarkan. Pemimpin itu untuk umatnya, bukan umat untuk pemimpin. Oleh karenanya selalu kita mohon agar Majlis ini selalu dalam rahmat dan ridho Allah, sehingga segala kebersamaan dalam rangka bersama-sama menempuh jalan Allah bisa semakin kuat. Sesuatu akan terasa nikmat setelah nikmat itu dicabut. Maka sebelum nikmat tersebut dicabut, mari kita bersungguh-sungguh dalam kebersamaan dakwah Islam ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=619</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120421_sp.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Suparyanto

Ada seorang Nabi yang ketika menyeru kepada umatnya, sampai waktu yang cukup lama tidak mendapatkan seorangpun. Nabi tersebut adalah Nabi Yunus. Bahkan yang didapat ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Suparyanto

Ada seorang Nabi yang ketika menyeru kepada umatnya, sampai waktu yang cukup lama tidak mendapatkan seorangpun. Nabi tersebut adalah Nabi Yunus. Bahkan yang didapat adalah cercaan, hujatan dan hinaan. Saat disampaikan peringantan Allah, tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Karena terjadi cukup lama dan umat terus menghujatnya. Akhirnya setelah sekian lama tidak ada tanggapan, maka Nabi Yunus meninggalkan mereka sampai perjalanannya begitu jauh. Nabi Yunus akhirnya naik kapal dalam keadaan ldquo;jengkelrdquo; kepada umatnya yang tidak mau diajak menuju perintah Allah. Suatu ketika terjadi badai yang mengharuskan barang-barang di kapal harus dibuang ke laut agar bisa selamat. Namun badai tetap berlangsung, dan akhirnya nakhoda kapal menyampaikan bahwa di antara penumpang harus ada yang dibuang di laut. Akhirnya diadakan lot/undian. Ternyata terpilihlah Nabi Yunus. Namun beberapa orang tidak rela Nabi Yunus yang baik itu dibuang ke laut, hingga akhirnya lot/undia diulangi lagi hingga semuanya 3x. Namun tetap saja akhirnya yang terpilih Nabi Yunus. Nabi Yunus menyampaikan, memang demikianlah kehendak Allah. Akhirnya Nabi Yunus dilemparkan ke laut dan dimakan ikan paus.
Saat Nabi Yunus di perut ikan, Nabi Yunus melakukan :
1. Bertaubat, menyesal, merasa salah, mohon ampun kepada Allah karena telah meninggalkan umatnya, membimbingnya tidak sam
2. Menyatakannbsp; bahwa Nabi Yunus telah membangun masjid, namun masjid itu belum digunakan sholat satu kalipun oleh umatnya dan berdoa agar diselamatkan hingga bisa kembali lagi kepada umatnya.
Di sisi yang lain, sebenarnya saat Nabi Yunus meninggalkan umatnya, tanda-tanda musibah terjadi di langit hingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa, dan saat mereka mencari Nabi Yunus, tidak dijumpai lagi karena Nabi Yunus sudah pergi jauh.
Saat pada akhirnya Nabi Yunus selamat dari perut ikan dan ancaman kelaparan, Nabi Yunus kembali pada umatnya dan disambut sekira 25.000 orang umatnya yang sudah taat.
Dari pelajaran Nabi Yunus ini, maka kita harus sabar dan gigih dalam berdakwah dan mengajak umat untuk mengaji ayat Allah. Jadi kita harus sabar, tawakal, sunatullah kita tempuh dengan sungguh-sungguh.
Jika orang mukmin memahami tiga hal, maka dia akan selamat dari tiga hal :
ldquo;Jika orang mukmin memahami bahwa Allah dalam menciptakan segala sesuatu tidak pernah salah, maka dia akan selamat dari menghina / mencacirdquo;
Ciptaan Allah bisa dalam bentuk apapun dalam kehidupan sehari-hari. Jika sesuatu sudah terjadi, maka itulah ketentuan Allah. Jika sesuatu belum terjadi, maka itu belum tentu ketentuan Allah. Allah tidak pernah salah dalam ketentuan-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menghina ciptaan Allah. Sebenarnya yang pantas kita hina bukan dzat-nya, teapi lebih kepada sifatnya. Yang bisa kita lakukan saat ada sesuatu yang tidak pas, maka kita berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian.
ldquo;Jika orang mukmin memahami bahwa Allah tidak pilih kasih dalam memberi rizki, maka dia akan selamat dari perasaan dengkirdquo;
Siapa saja yang menempuh sunatullah dengan sungguh-sungguh maka Allah akan memberikan apa yang diusahakan. Banyak sedikitnya yang diperoleh tentu karena sunatullah yang sudah ditempuh. Harus kita yakini bahwa apa yang diperoleh hanya dari Allah. Dengan adanya keyakinan demikian maka tidak ada rasa dengki, karena semua datangnya dari Allah.
Nasehat dari Rasul saw dalam HR Tirmidzi :
Jadikanlah dunia itu di tanganmu dan jadikanlah Allah itu dihatimu.
Jika hati kita sudah ada Allah dan tangan kita dalam kendali hati, maka kita sudah berada dalam jalan yang benar. Jangan sebaliknya dimana dunia ada di hati, maka Allah akan jauh dari kita.
ldquo;Jika orang mukmin memahami bahwa dia diciptakan dari bahan yang sama yaitu tanah, maka dia akan selamat dari kesombonganrdquo;
Asal manusia sama dari saripati tanah, maka tidak layak kita muncul kesombongan walaupun kita dalam beberapa hal lebih dari yang lain.
Dari Anas RA dari Nabi SAW ber...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Terhadap Takdir Allah, Bagaimana Sikap Kita? (1)</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=614</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=614#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 13:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Suparyanto
Menurut kita, kita nanti selamat atau celaka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?
Menurut kita, kita nanti masuk surga atau neraka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?
QS Al Hadiid (57) 22
tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Suparyanto</strong></p>
<p>Menurut kita, kita nanti selamat atau celaka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?<br />
Menurut kita, kita nanti masuk surga atau neraka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?<br />
<em>QS Al Hadiid (57) 22<br />
</em><em>tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.<br />
</em>Dari ayat QS 57:22 ini sudah jelas bahwa segala sesuatu sangat mudah bagi Allah, bahkan daun jatuh di hutan pun tiada mungkin terjadi tanpa seijin Allah. Segala apapun yang terjadi di bumi, bahkan surga / neraka bagi kita sudah ada tulisannya di lauhul mahfudz sebelum menciptakan kita semua termasuk langit dan bumi, namun kita yang tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Apa yang ditulis Allah pasti cocok (terperinci dan teliti), tidak seperti manusia dimana apa yang ditulisnya belum tentu seperti itu.<br />
<span id="more-614"></span>Jangan sampai kita terjebak sekuler bahwa jika kita sudah usaha dan berdoa pasti apa yang kita harapkan menjadi kenyataan. Penting harus diingat bahwa terhadap segala sesuatu pasti dan selalu ada campur tangan Allah.<br />
<em>Sahabat bertanya kepada Rasul saw saat di pemakaman Baqi, apakah surga/neraka sudah ditentukan? Sudah, begitu jawab Rasul saw. Dari jawaban ini bahkan ada pemikiran dari Sahabat bahwa Allah dhalim/tidak adil. Lalu jawab Rasul, Allah tidak dimintai pertanggunganjawab, tapi makhluk-lah yang akan dimintai pertanggunganjawab oleh Allah.<br />
</em><em>QS Al Hadiid (57) 23<br />
</em><em>(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[*] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,<br />
</em>[*] Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.<br />
Dari QS 57:23 jelas sekali bahwa dengan segala sesuatu yang sudah dituliskan dalam lauhul mahfudz, maka bagi manusia harus harus yakin bahwa di setiap suka atau duka selalu ada campur tangan Allah di dalamnya. Bagi orang yang beriman maka yang bisa dilakukan adalah harus selalu berbaik sangka kepada Allah.<br />
<em>QS Ar Ra’d (13) 11<br />
bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[*]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[**] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.<br />
</em>[*] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.<br />
[**] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.<br />
Jika tidak hati-hati, QS 13:11 seolah-olah bertentangan dengan QS 57:22. Namun penting diingat, tidak ada ayat yang saling bertentangan dalam Al Qur’an. Jika kita hanya memahami ayat ini hanya berhenti pada <em>“Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan”</em>, maka kita akan menjadi orang-orang sekuler, yang hanya mengandalkan hukum sebab-akibat karena seolah-olah tidak ada campur tangan Allah. Tentang “mengubah” tadi, jika kita sudah usaha dan berdoa secara maksimal, maka kita harus tawakal.<br />
<em>QS Ali Imran (3) 159<br />
</em><em>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[*]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.<br />
</em>[*] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.<br />
Boleh jadi apa yang menurut kita baik, namun tidak baik menurut Allah. Demikian sebaliknya, Yang harus diyakini oleh hamba yang beriman, maka kehendak Allah pasti baik. Maka di saat kita gagal dalam kehidupan ini, janganlah kita terjerembab dalam kedukaan yang berlarut-larut. Jangan sampai konteks “mengubah” ini bagi Allah adalah seperti apa yang kita kehendaki. Allah itu berhak memerintah, tapi tidak berhak diperintah. Jika apa yang kita minta akhirnya dipenuhi Allah maka kita harus mensyukurinya dengan sungguh-sungguh. Setiap perjalanan kita harus yakin bahwa selalu ada takdir Allah, namun kita tidak tahu seperti apa takdir itu.<br />
Apakah terus kita berpikir bahwa jika Allah sudah menentukan takdir kita nanti seperti apa, terus kita berhenti berusaha dan tidak melakukan apa-apa? <em>Rasul saw menerangkan kepada para Sahabat : Barangsiapa yang meyakini takdir Allah, maka dia akan mengarah kepada takdir kebaikan.<br />
</em>Jika orang percaya akan takdir Allah, karena tidak tahu takdir Allah kepada kita itu baik/tidak, justru kita diarahkan oleh Rasul saw untuk meyakini bahwa takdir Allah adalah baik sehingga langkah yang kita tempuh adalah kebaikan. Berusaha sungguh mendekat kepada Allah, beramal sholeh, bertaqwa, menghindari larangan-Nya, semua itu dilakukan karena percaya akan takdir baik Allah.<br />
Pertama : jika ada orang yang meyakini jika takdirnya kaya ya kaya, jika miskin ya miskin, jika surga ya surga, jika neraka ya neraka, maka itu adalah orang yang tidak percaya pada takdir Allah.<br />
Kedua : jika ada orang yang mengandalkan sunnatullah lebih pada hukum sebab-akibat, juga termasuk orang yang tidak percaya kepada takdir Allah.<br />
Caranya : ketika kita menempuh takdir Allah tadi, kita sudah harus  berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita dan terus menempuh jalan kebaikan sambil yakin kepada Allah mudah-mudahan Allah memberikan takdir baik kepada kita. Maka setelah kita berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh, di balik semua itu harus yakin bahwa ada ketentuan Allah.<br />
Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa dalam setiap kejadian selalu ada campur tangan Allah.<br />
Ilustrasi : seorang guru hafal betul beragam kondisi murid-murid dalam kelasnya. Di awal tahun ajaran baru, sudah bisa diprediksikan/ditulis jika kondisinya tetap maka ada sekian anak yang tidak naik kelas. Ternyata kondisinya tetap sehingan sekian anak tersebut benar-benar tidak naik kelas. Lalu bisakah murid yang tidak naik kelas tersebut protes kepada gurunya karena sudah diprediksikan/ditulis sebelumnya? Tentu jawabnya tidak bisa, karena yang membuat mereka tidak naik kelas adalah sikap mereka sendiri.<br />
Demikian juga kita dengan Allah, apa yang ditulis Allah pasti tepat. Maka jika kita ingin kebaikan di sisi Allah, kita juga harus menempuh jalan kebaikan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika di dunia ini kita sudah melangkah di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, maka bisa jadi kita akan mendapatkan ketentuan Allah yang baik bagi kita. Intinya, proses adalah kewajiban kita untuk menjaminkan bahwa setiap langkah kita berada di jalan Allah, sementara hasil akhirnya sepenuhnya kita serahkan kepada Allah.<br />
Dengan ketentuan takdir Allah itu, maka setiap amalan kita akan ada ruh-nya.<br />
Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapatkan takdir yang baik maka akan dimudahkan baginya kebaikan. Sebaliknya barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapatkan takdir yang buruk makan akan dimudahkan baginya keburukan.<br />
<em>QS Al Lail (92) 5-10<br />
</em><em>5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,<br />
</em><em>6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),<br />
</em><em>7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.<br />
</em><em>8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[*],<br />
</em><em>9. serta mendustakan pahala terbaik,<br />
</em><em>10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.<br />
</em>[*] Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.<br />
Konteks membenarkan dalam QS 92:6 tidak hanya sekedar perkataan saja, tapi juga melakukan. Jalan yang mudah adalah dimudahkan baginya untuk melaksanakan amalan-amalan sholih dalam rangka meraih keridhaan Allah.<br />
Sebagai orang yang beriman, maka setiap kebaikan harus terus dipupuk dan dikembangkan sedangkan bibit-bibit keburukan harus segera dimatikan setiap kali tumbuh. Oleh karenanya, mari tingkatkan loyalitas kita kepada Allah, karena bukan Allah yang butuh kita tapi kitalah yang sangat butuh Allah.<br />
<em>QS Az Zumar (39) 7<br />
</em><em>jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[*] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[**]. kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.<br />
</em>[*] Maksudnya: manusia beriman atau tidak hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun.<br />
[**] Maksudnya: masing-masing memikul dosanya sendiri- sendiri.<br />
Jangan ditunda-tunda untuk melangkah dalam kebaikan. Dengan demikian semoga kita dimudahkan Allah untuk melalui jalan Allah.<br />
Dalam QS 92:8-10 jelas bahwa jika kita bakhil dan seolah-olah tidak butuh Allah serta mendustakan pahala kebaikan, maka tunggulah kelak kesukaran yang akan kita dapat, naudzubillah. Maka kita harus paham akan tanda-tanda jika untuk berbuat baik begitu sulit, kita harus waspada. Semoga kita dimudahkan Allah untuk menempuh jalan Allah.<br />
<em>QS Al Qashash (28) 77<br />
</em><em>dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.<br />
</em>Tidak ada akherat jika tidak ada dunia. Dunia ini seolah-olah kita gunakan untuk kendaraan untuk mendapatkan kebaikan di akhirat, dan ini semua harus dilakukan dalam rangka menghjarap ridha Allah karena baik dunia maupun akhirat dan segala isinya kepunyaan Allah.<br />
Ilustrasi : kendaraan di dunia ini beraneka ragam. Segala jenis kendaraan itu bisa untuk menuju tujuan. Ada yang punya kendaraan bagus namun karena tidak bisa menyetir maka tidak bisa sampai tujuan. Ada juga yang kendaraannya sangat minim namun justru membebaninya dan membuatnya tidak sampai tujuan.<br />
Oleh karenanya, dengan ilustrasi tersebut apapun kendaraan kita, semoga kendaraan tersebut bisa mengantarkan kita untuk meraih kebaikan di sisi Allah.</p>
<p><!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=614</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120414_sp.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Suparyanto

Menurut kita, kita nanti selamat atau celaka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?
Menurut kita, kita nanti masuk surga atau neraka apakah sudah tercatat dalam ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Suparyanto

Menurut kita, kita nanti selamat atau celaka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?
Menurut kita, kita nanti masuk surga atau neraka apakah sudah tercatat dalam lauhul mahfudz?
QS Al Hadiid (57) 22
tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Dari ayat QS 57:22 ini sudah jelas bahwa segala sesuatu sangat mudah bagi Allah, bahkan daun jatuh di hutan pun tiada mungkin terjadi tanpa seijin Allah. Segala apapun yang terjadi di bumi, bahkan surga / neraka bagi kita sudah ada tulisannya di lauhul mahfudz sebelum menciptakan kita semua termasuk langit dan bumi, namun kita yang tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Apa yang ditulis Allah pasti cocok (terperinci dan teliti), tidak seperti manusia dimana apa yang ditulisnya belum tentu seperti itu.
Jangan sampai kita terjebak sekuler bahwa jika kita sudah usaha dan berdoa pasti apa yang kita harapkan menjadi kenyataan. Penting harus diingat bahwa terhadap segala sesuatu pasti dan selalu ada campur tangan Allah.
Sahabat bertanya kepada Rasul saw saat di pemakaman Baqi, apakah surga/neraka sudah ditentukan? Sudah, begitu jawab Rasul saw. Dari jawaban ini bahkan ada pemikiran dari Sahabat bahwa Allah dhalim/tidak adil. Lalu jawab Rasul, Allah tidak dimintai pertanggunganjawab, tapi makhluk-lah yang akan dimintai pertanggunganjawab oleh Allah.
QS Al Hadiid (57) 23
(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[*] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
[*] Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.
Dari QS 57:23 jelas sekali bahwa dengan segala sesuatu yang sudah dituliskan dalam lauhul mahfudz, maka bagi manusia harus harus yakin bahwa di setiap suka atau duka selalu ada campur tangan Allah di dalamnya. Bagi orang yang beriman maka yang bisa dilakukan adalah harus selalu berbaik sangka kepada Allah.
QS Ar Rarsquo;d (13) 11
bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[*]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[**] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[*] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[**] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Jika tidak hati-hati, QS 13:11 seolah-olah bertentangan dengan QS 57:22. Namun penting diingat, tidak ada ayat yang saling bertentangan dalam Al Qurrsquo;an. Jika kita hanya memahami ayat ini hanya berhenti pada ldquo;Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanrdquo;, maka kita akan menjadi orang-orang sekuler, yang hanya mengandalkan hukum sebab-akibat karena seolah-olah tidak ada campur tangan Allah. Tentang ldquo;mengubahrdquo; tadi, jika kita sudah usaha dan berdoa secara maksimal, maka kita harus tawakal.
QS Ali Imran (3) 159
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[*]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkal...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia, Akhirat atau Allah yang Kita Cintai?</title>
		<link>http://mta-madiun.com/v1/?p=610</link>
		<comments>http://mta-madiun.com/v1/?p=610#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 10:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mta-madiun.com/v1/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Suparyanto
QS Al Maaidah (5) 35
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Bolehkan kita minta kepada Allah agar diberikan : kebahagiaan dunia? Kebahagiaan akhirat? Tentu boleh. Bahkan disyariatkan dengan doa seperti diajarkan dalam QS 2:201, &#8220;Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ust. Suparyanto</strong></p>
<p><em>QS Al Maaidah (5) 35<br />
</em><em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.<br />
</em>Bolehkan kita minta kepada Allah agar diberikan : kebahagiaan dunia? Kebahagiaan akhirat? Tentu boleh. Bahkan disyariatkan dengan doa seperti diajarkan dalam QS 2:201, &#8220;Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina &#8216;adzabannar&#8221; (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).<br />
<span id="more-610"></span>Orang yang mencintai dunia akan menghambat dirinya untuk mendekat kepada Allah. Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai dunia? Boleh, namun tidak boleh mengalahkan kecintaan kita kepada Allah, Rasul dan sabilillah. Mari kita tanya kepada diri kita masing-masing, betulkah bahwa kita cinta kepada Allah? Allah tentu tahu apa yang sebenarnya kita cintai di dalam hati ini, apakah Allah&amp;RasulNya atau hanya dunia ini. Sebagai ilustrasi, kepatuhan anak kepada Bapaknya yang ingin dibelikan hp, apakah karena memang taat kepada Bapaknya atau agar dibelikan hp? Begitu pula dengan kita, apakah kita benar-benar mencintai Allah atau hanya mengharap kesenangan dunia.<br />
Sebagaimana disebutkan dalam QS 3:14 bahwa pada hakekatnya manusia suka akan kesenangan dunia diantaranya : wanita, anak, harta. Semua itu diminta manusia kepada Allah. Dalam memohon itu lebih kepada mencintai dunia daripada mencintai Allah, meskipun Allah akan memberinya. Namun di hati kecil manusia, sungguh kecil kecintaannya kepada Allah.<br />
<em>QS Al A’raaf (7) 55 :<br />
</em><em>55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[*].<br />
</em>[*] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.<br />
<em>QS Al Baqarah (2) 186<br />
</em><em>dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.<br />
</em>Setiap orang mukmin pasti mendambakan dirinya untuk bisa dekat dengan Allah. Dengan berbagai upaya maksimal dilakukannya (kekuatan, tenaga, pikiran). Orang yang dekat dengan Allah pasti beruntung akhirat dan dunianya. Ilustrasinya orang yang dekat dengan walikota saja secara dunia banyak mendapat keuntungan dunia. Bayangkan apabila kita dekat dengan Allah, tentu begitu banyak keuntungan yang kita dapat dan bahkan kita tidak akan dapat menghitungnya. Namun demikian mendekat kepada Allah harus dengan cara yang benar sebagaimana disyariatkan agama. Jangan sampai dalam rangka mendekat kepada Allah ini terjebak ke dalam sesuatu yang tidak benar, dalam artian syariatnya salah.<br />
Dari QS 5:35, ada juga orang yang memahami bahwa bertaqwalah kepada Allah dengan washillah (tawasul). Dalam beberapa praktek thariqat, seringkali terjadi kesalahan dimana seorang hamba tidak dibenarkan langsung mendekat kepada Allah kecuali harus melalui perantaraan mursidnya. Inilah cara tawasul yang salah. Bahkan kepada Rasul saw pun kita tidak boleh menjadikannya perantara. Lalu washilah seperti apa yang bisa digunakan? Yaitu ketaatan kita kepada Allah, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, semaksimalnya.<br />
Orang yang mukhlis, meskipun dia tetap meminta dunia dan akhirat, namun di hatinya yang terbayang hanya bagaimana bisa dicintai dan dekat dengan Allah. Akhirnya mari kita renungkan, apa yang sebenarnya kita inginkan? Dunia, akhirat atau Allah? Atau jangan-jangan kita hanya terus meminta tanpa mencintai Allah. Mari, dalam rangka meluruskan aqidah ini segera kita berusaha mendekat kepada Allah semaksimalnya dengan cara yang benar.<br />
Sebagai bukti bahwa kita beriman, kita harus yakin benar bahwa takdir Allah itu ada. Takdir Allah sudah dicatat sebelumnya, namun kita tidak tahu. Tidak boleh kita hanya mengandalkan sebab-akibat. Jika ikhtiar kita sudah tempuh, namun semuanya terkembali kepada campur tangan Allah. Maka yang bisa dilakukan Allah adalah menuju kepada sunatullah dan takdir yang baik. Setiap kita berusaha apapun, kita harus paham bahwa pada akhirnya Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. Maka, menolak takdir adalah termasuk kekafiran.<br />
Belajar dari kisah Nabi Ayyub as, setelah diberikan sakit oleh Allah yang demikian parah, bukan kesembuhan yang diminta, namun justru memuji Allah sebagai Maha Penyayang. Nabi Ayyub hanya menghendaki kabaikan dari Allah, maka sampai tidak berani meminta kesembuhan kepada Allah.<br />
<em>QS Al Anbiyaa (21) 83-84<br />
</em><em>83. dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: &#8220;(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang&#8221;.<br />
</em><em>84. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.<br />
</em>Dari kisah Nabi Ayyub yang cara taat dan syariatnya kepada Allah benar, maka di kala kita diberikan cobaan/ujian oleh Allah, jangan mudah berputus asa. Karena orang yang berputus asa dari rahmat Allah termasuk orang kafir.<br />
<em>QS Yusuf (12) 87<br />
</em><em>Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir&#8221;.<br />
</em>Setelah kita melakukan ikhtiar dengan ketaatan dan syariat yang benar, maka kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Jikalau saat ini apa yang kita harapkan belum tercapai, bisa jadi ada rencana Allah yang lebih indah dari Allah bagi kita.<br />
Orang mukmin jika mau datang kepada Allah, mau mendekat kepada Allah, maka Allah tentu sudah menyiapkan kebaikan kepada kita. Ilustrasinya, jika anak kita yang jauh akan datang, bukankah kita sebagai orang tua akan mempersiapkan segala sesuatu yang bisa membuat anak kita senang. Nah, jika Allah sudah menyiapkan segala kebaikan jika kita mau mendekat dan mencintai Allah, mengapa kita tidak mau segera mendekat kepada Allah?<br />
Saat kita baru sedikit mendekat kepada Allah, Allah sudah menyambutnya dengan lebih jauh. Inilah bukti Allah sangat mencintai orang mukmin. Betapa ruginya kita jika tidak mau mendekat kepada Allah.<br />
<em>HR Muslim dan Bukhari :<br />
</em><em>Dari Abu Harairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-KU, dan Aku selalu bersamanya di mana saja ia mengingat-Ku”. (Nabi SAW bersabda), “Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih senang terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang dari kalian mendapatkan kembali barang-barangnya yang hilang di padang pasir”. (Allah berfirman), “Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Dan apabila dia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”.<br />
</em><em>QS Al Maaidah (5) 54<br />
</em><em>Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.<br />
</em>Orang yang mencintai Allah, terhadap orang yang beriman lemah lembut, terhadap orang yang kafir bersikap tegas, mau berjihad di jalan Allah serta tidak takut hanya karena celaan manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mta-madiun.com/v1/?feed=rss2&amp;p=610</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://download.mta-madiun.com/mp3/120407_sp.mp3" length="1" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Ust. Suparyanto

QS Al Maaidah (5) 35
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Ust. Suparyanto

QS Al Maaidah (5) 35
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Bolehkan kita minta kepada Allah agar diberikan : kebahagiaan dunia? Kebahagiaan akhirat? Tentu boleh. Bahkan disyariatkan dengan doa seperti diajarkan dalam QS 2:201, "Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar" (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).
Orang yang mencintai dunia akan menghambat dirinya untuk mendekat kepada Allah. Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai dunia? Boleh, namun tidak boleh mengalahkan kecintaan kita kepada Allah, Rasul dan sabilillah. Mari kita tanya kepada diri kita masing-masing, betulkah bahwa kita cinta kepada Allah? Allah tentu tahu apa yang sebenarnya kita cintai di dalam hati ini, apakah Allah#38;RasulNya atau hanya dunia ini. Sebagai ilustrasi, kepatuhan anak kepada Bapaknya yang ingin dibelikan hp, apakah karena memang taat kepada Bapaknya atau agar dibelikan hp? Begitu pula dengan kita, apakah kita benar-benar mencintai Allah atau hanya mengharap kesenangan dunia.
Sebagaimana disebutkan dalam QS 3:14 bahwa pada hakekatnya manusia suka akan kesenangan dunia diantaranya : wanita, anak, harta. Semua itu diminta manusia kepada Allah. Dalam memohon itu lebih kepada mencintai dunia daripada mencintai Allah, meskipun Allah akan memberinya. Namun di hati kecil manusia, sungguh kecil kecintaannya kepada Allah.
QS Al Arsquo;raaf (7) 55 :
55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[*].
[*] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
QS Al Baqarah (2) 186
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Setiap orang mukmin pasti mendambakan dirinya untuk bisa dekat dengan Allah. Dengan berbagai upaya maksimal dilakukannya (kekuatan, tenaga, pikiran). Orang yang dekat dengan Allah pasti beruntung akhirat dan dunianya. Ilustrasinya orang yang dekat dengan walikota saja secara dunia banyak mendapat keuntungan dunia. Bayangkan apabila kita dekat dengan Allah, tentu begitu banyak keuntungan yang kita dapat dan bahkan kita tidak akan dapat menghitungnya. Namun demikian mendekat kepada Allah harus dengan cara yang benar sebagaimana disyariatkan agama. Jangan sampai dalam rangka mendekat kepada Allah ini terjebak ke dalam sesuatu yang tidak benar, dalam artian syariatnya salah.
Dari QS 5:35, ada juga orang yang memahami bahwa bertaqwalah kepada Allah dengan washillah (tawasul). Dalam beberapa praktek thariqat, seringkali terjadi kesalahan dimana seorang hamba tidak dibenarkan langsung mendekat kepada Allah kecuali harus melalui perantaraan mursidnya. Inilah cara tawasul yang salah. Bahkan kepada Rasul saw pun kita tidak boleh menjadikannya perantara. Lalu washilah seperti apa yang bisa digunakan? Yaitu ketaatan kita kepada Allah, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, semaksimalnya.
Orang yang mukhlis, meskipun dia tetap meminta dunia dan akhirat, namun di hatinya yang terbayang hanya bagaimana bisa dicintai dan dekat dengan Allah. Akhirnya mari kita renungkan, apa yang sebenarnya kita inginkan? Dunia, akhirat atau Allah? Atau jangan-jangan kita hanya terus meminta tanpa mencintai Allah. Mari, dalam rangka meluruskan aqidah ini segera kita berusaha mendekat kepada Allah semaksimalnya dengan cara yang benar.
Sebagai bukti bahwa kita beriman, kita harus yakin benar bahwa takdir Allah itu ada. Takdir Allah sudah dicatat sebelumnya, namun kita tidak tahu. Tidak boleh kita hanya mengandal...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Pengajian</itunes:keywords>
		<itunes:author>maskiton@yahoo.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
	</channel>
</rss>

